Aku (tertawa keji) : Wkwkwkwk
Putra : Ya ampun, Daniel. Aku wedi banget ki. Mengko yen ra iso, piye? (sibuk membolak-balik catatan yang penuh dengan nama-nama unsur)
Aku : Sakke
Dan begitulah, akhirnya Bu *** menyuruh nomor absen 29 (Esthi) dan 9 (Dian, cowok lho), dan Putra akhirnya mampu bernapas lega. Mereka berdua ternyata disuruh menulis soal mengenai kalorimetri. Dian menulis soal yang cukup rasional untuk dikerjakan sementara Esti menulis soal yang mustahil dikerjakan oleh Marie Curie (tidak sehiperbola itu sebetulnya).
Bu *** (begitu mereka berdua selesai menulis soal) : Sekarang berikan spidol kalian ke teman yang kalian suka
Aku dengan bodohnya menunjuk Sammy atau Irma untuk Esthi. Tapi ternyata Esti sudah menentukan pilihannya: aku! Dan mendadak di telingaku terdengar musik orkestra dengan nada minor kayak di Spongebob pas uang Tuan Krab dimakan kerang. Dengan gentar aku maju ke papan tulis yang sekarang mirip papan cucian berduri.
Ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Awal2nya aku merasa bisa mengerjakan karena cuma disuruh nulis kalor jenis dan selisih suhu. Tapi begitu disuruh cari massanya aku langsung garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Apalagi adanya tekanan Bu *** yang berkata, "Jadi kamu yang dapet matematika 100, tapi kok kimia ga 100 i piye?" dengan nada tidak menyenangkan. Benar2 membuat down.
Akhirnya aku menoleh ke belakang dan misuh2 dalam hati kepada Esti sementara Esti cuma cengar-cengir saja. Aku nyerah. Aku mengeluarkan jurus terakhir: pengawuran. Setelah selesai mengerjakan soal keparat itu, aku duduk kembali ke kursi.
Setelah selesai mengoreksi pekerjaan Yoga yang cerdas buat soalnya Dian, beliau gantian mengoreksi hasil karyaku. Lalu beberapa saat kemudian, Bu *** mencerca pekerjaanku dengan senang hati. Putra, Fila, dan Dila cekikikan sementara aku udah uring2an dengan guru itu
